Waktu itu hanya menunggu, dan menunggu itu hanya waktu

Aku bisa menunggumu, sampai matahari sayup dan enggan mengepakkan sayapnya lagi
Aku bisa menunggumu, sampai hujan kering dan rinainya tak menerkam senja lagi
Aku bisa menunggumu, sampai bukit tak perdu lagi, sampai danau tak berriak lagi, sampai
pelangi tak berwarna lagi dan bahkan sampai waktu tak berdetak lagi.
Aku bisa menunggumu ..
Menunggumu hanya soal waktu
Menunggumu adalah harga matiku
Jangan kau tanya lagi cintaku, jangan kau tanya lagi hatiku
Semua hanya milikmu ;
Lelaki yang telah mencuri hatiku
Mencuri darahku
Mencuri nafasku
Mencuri nyawaku
Mencuri matahariku
Mencuri pelangiku
Mencuri jarum jamku
Mencuri angin, hujan, tawa dan candaku ..
Dan kini mencuri hidupku
Walau kini kau lelap dalam hilang
Kau senyap dari bising kerinduanku
Aku tetap setia menjejaki parasmu yang selalu membayang dalam imajiku
Aku menunggumu, meski harus bergulat dengan waktu
Walau aku terkadang takut waktu yang akan mendahuluiku !!
Menunggumu hanya soal waktu, dan waktu yang ku milikki adalah untuk menunggumu
Menunggu ..
Masih menunggu .
Tetap menunggu
Menunggu .. dan menunggu ..

1 Response to "Waktu itu hanya menunggu, dan menunggu itu hanya waktu"

  1. Ok, jadi puisi ini diikutsertakan dalam sebuah kompetisi menulis puisi yang entah bagaimana endingnya. Gaje, wush aja ngilang gak tau juntrungannya ><

    BalasHapus

Follow