Brigade Language - Everlasting Friends ^^



Saat saya menorehkan tinta tinta kuyup di atas lembaran kertas yang polos ini hanya satu yang ada di benak saya. Yakni sebuah apresiasi. Apa apresiasi yang layak bagi penulis amatiran seperti saya ? itu perlu dikaji ulang . umur saya 18 tahun, saat ini saya masih disibukkan dengan pemadatan materi di sekolah saya, SMA N 1 Kawali, Ciamis Jawa Barat. Kebetulan saya mendapatkan tugas perwakilan untuk pemadatan mata pelajaran Antropologi dan Sastra Indonesia. Di jurusan Bahasa saya belajar, bersama 16 murid lainnya. Ya, kelas saya hanya dihuni oleh 17 murid dengan rincian 2 murid laki-laki dan 15 murid perempuan. Jurusan Bahasa hanya ada satu di Kabupaten Ciamis untuk SMA . Jadi bisa saja kelas saya jadi sorotan ketika UN 2011 berlangsung nanti . Hanya satu-satunya dengan jumlah murid minoritas.
            Ketika saya ditanya oleh beberapa rekan “ Kamu jurusan apa ? “ Dengan bangga saya mengatakan “ Bahasa, Bahasa satu dan satu-satunya “ Ketika saya menjawab seperti itu tanggapan orang-orang pun berbeda-beda. Ada yang memuji, ada yang mencibir, ada yang heran, ada yang iri, dan ada yang biasa saja. Yang saya soroti ya itu, yang mencibir. Apa dasar mereka mencibir padahal mereka sendiri tidak pernah mengetahui bagaimana dalamnya kelas Bahasa itu. Mereka bilang kelas Bahasa itu hanya kelas buangan dari kelas IPA dan IPS . Maka saya terbahak dalam hati, kata siapa saya buangan ? Saya langsung menjatuhkan pilihan ke program Bahasa tanpa sedikit pun melirik program IPA atau IPS. Anda yang berkata demikian, jelas salah seratus persen  .
            Bagaimana dengan suasana di dalam kelas sendiri ? terjalin kekeluargaan yang harmonis antara 17 murid yang berbeda-beda latar dan kepribadian. Tapi kami memiliki mental dan visi misi yang sama untuk kedepannya . Sama-sama dituntut bermental baja dan memiliki keteguhan yang benar-benar kokoh . Saya hapal betul cita-cita dari beberapa teman-teman saya. Ada yang ingin jadi Guide, Broadcasting, Penyiar Berita, Transletor, dan saya sendiri sangat berkeinginan untuk menjadi seorang Jurnalis terlebih Wartawan. Saya acungkan jempol untuk pengharapan tertinggi dari teman-teman saya . Di saat yang lain hanya terpuruk pada tuntutan lulus jadi Dokter, lulus jadi Profesor tapi mental sendiri belum mumpuni .
            Jalan terbentang luas meski belum kasat mata terpandang. Teman saya yang ingin jadi seorang ahli di bidang broadcasting seolah sudah meneguk cairan pelumas untuk mimpi-mimpiya. Asri Juniawati yang kini sudah pasti diterima di sebuah lembaga pendidikan jurusan Broadcasting. Sudah pasti kelak akan jadi seorang ahli di bidangnya bukan ? J Lalu nasib saya sendiri yang ingin jadi seorang Jurnalis dan Antropolog. Doakan ya kawan-kawan semoga mimpi-mimpi yang sudah saya jalin bias terwujud dengan posisi yang utuh tanpa harus menggeser mimpi-mimpi saya . J
            Terimakasih sebesar-besarnya kepada guru-guru kami tercinta, terkasih, bpk.Rohili, B.A. yang sudah membimbing kami saat pertama kali masuk kelas XI saat kami terseok-seok menahan rimba-rimba dan ombak yang menggulung pendirian kami, yang saat kami masih lugu dan tak mampu membela diri dari hujatan orang-orang yang tak mengerti tujuan hidup, terimakasih setinggi-tingginya. Hanya Alloh S.W.T. yang layak membalas kasih sayangmu J . Juga kepada bpk. Maman Dirman, S.Pd selaku ayah kami saat kami menyusut karena hokum dan seleksi alam , atas ilmu-ilmu Antropologi yang membuat saya sangat mengagumi mata pelajaran yang bapak ajarkan. Terimakasih untuk ibu Titin Hatijah, S.pd , ilmu-ilmu sastra yang sangat menyublim di palung hati kami , ibu Siti Hadijah, S.pd atas kesabarannya .. dan semua guru mata pelajaran yang sudah sepenuh hati mendidik kami . Bpk Hernawan, S.pd . Kami akan sangat rindu acungan jempol bapak itu J
            Yakinlah, kita akan lulus dengan hasil sempurna, kita akan membayar keringat-keringat yang menciumi lembaran demi lembaran kertas using dengan surat kelulusan, kita akan membayar peluh dan lelah berkutat dengan soal-soal dengan surat kelulusan, kita akan lulus, kita akan menatap masa depan dengan bahagia, dnegan jalan yang lurus .
            Untuk keluarga saya, 22 orang yang sangat saya cintai .. di manapun kalian berada, kenanglah dan bawalah nama ini sampai ke ujung pengharapan, jaga nama baik ini sampai kalian lupa cara mengingat kenangan ini. Kita keluarga, tak ada yang beda, kita sama. Kenanglah BRIGADE LANGUAGE J ..
            Kini, setahun sudah peristiwa itu berlalu, sekarang kami sudah hidup sebagai pribadi lepas, kita sudah lepas dari kostum putih-abu . Kami sudah menjadi mahasiswa ! Kami sudah siap menjelma menjadi kupu-kupu yang indah, menatap masa depan dan memijakan kaki dalam deretan kesuksesan. Kami, Brigade Language saling rindu, saling menyokong, saling menolong, saling mengingatkan walau kami sudah tak bersama-sama lagi.
            We are fame, ‘till world the end .. Forever ..

0 Response to "Brigade Language - Everlasting Friends ^^"

Posting Komentar

Follow